Kabar Duka dari Kenya: Sisa 2 Ekor Betina, Badak Putih Utara Resmi Dinyatakan Punah Fungsional!

Kabar Daerah 📅 14 Sep 2026, 11:09 ✍️ Ary Kumalasari
[ Slot Iklan Google AdSense - Top Article ]
Dua individu betina terakhir dari subspesies badak putih utara, Najin dan Fatu, yang kini menjadi satu-satunya harapan tersisa di tengah status kepunahan fungsional.
Ilustrasi: Dua individu betina terakhir dari subspesies badak putih utara, Najin dan Fatu, yang kini menjadi satu-satunya harapan tersisa di tengah status kepunahan fungsional.

POSISI.NET – Dunia pelestarian satwa liar global baru saja mencatat sebuah babak sejarah yang sangat memilukan. Salah satu mamalia darat paling megah di bumi, subspesies badak putih utara, kini berada di ujung tanduk eksistensinya dan dipastikan tidak lagi memiliki masa depan secara alami di alam liar.

Ringkasan Fakta Kondisi Terkini :

  • Badak putih utara tidak punah sepenuhnya, tetapi secara resmi telah dinyatakan punah secara fungsional.

  • Status kepunahan fungsional ini diberikan karena populasi subspesies ini hanya menyisakan dua ekor badak betina di dunia.

  • Dua individu betina terakhir tersebut bernama Najin dan Fatu.

  • Najin dan Fatu saat ini tinggal di kawasan Ol Pejeta Conservancy yang berlokasi di Kenya.

  • Subspesies ini tidak bisa lagi berkembang biak secara alami.

  • Tragedi ini dipastikan setelah pejantan terakhir di dunia yang bernama Sudan mati pada bulan Maret 2018.

  • Tim ilmuwan internasional melalui program BioRescue masih berupaya menyelamatkan mereka menggunakan teknologi reproduksi buatan.

  • Hingga awal tahun 2026, program tersebut sukses mengumpulkan sebanyak 39 embrio.

    [ Slot Iklan Google AdSense - In-Article ]

Akhir Memilukan Sang Raksasa Bercula

Kabar duka menyelimuti komunitas konservasi satwa internasional. Subspesies badak putih utara secara resmi telah dinyatakan punah secara fungsional. Vonis status konservasi yang sangat memprihatinkan ini terpaksa dijatuhkan karena populasi badak putih utara di seluruh dunia kini hanya menyisakan dua individu betina saja.

Kedua badak betina terakhir yang memikul beban berat sejarah spesiesnya tersebut diberi nama Najin dan Fatu. Saat ini, keseharian Najin dan Fatu dihabiskan dengan penjagaan super ketat di sebuah kawasan pelestarian bernama Ol Pejeta Conservancy, yang berlokasi di negara Kenya.

Mengapa Disebut Punah Secara Fungsional?

Istilah kepunahan fungsional mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, mengingat masih ada individu satwa yang hidup. Namun, penjelasannya sangatlah logis dan tragis: baik Najin maupun Fatu tidak lagi mampu berkembang biak secara alami.

Satu-satunya harapan untuk mempertahankan garis keturunan melalui reproduksi natural telah musnah seiring dengan kematian pejantan terakhir di dunia yang bernama Sudan. Sudan diketahui telah mati pada bulan Maret 2018 silam. Tanpa adanya pejantan untuk membuahi sel telur secara alamiah, populasi ini dianggap sudah tidak mampu menopang keberlangsungan generasinya di masa depan.

Secercah Harapan dari Program BioRescue

Meski badai kepunahan telah memorak-porandakan siklus alami badak putih utara, barisan ilmuwan dan pakar genetik menolak untuk mengibarkan bendera putih. Mereka masih terus berupaya keras untuk menyelamatkan sisa-sisa genetik subspesies ini melalui inovasi teknologi reproduksi buatan.

Melalui inisiatif program internasional yang diberi nama BioRescue, kerja keras para ilmuwan mulai menampakkan hasil. Tercatat hingga awal tahun 2026, tim ahli dari program tersebut telah berhasil menghasilkan dan mengumpulkan 39 embrio dari badak putih utara. Skenario penyelamatan ke depannya cukup ambisius; puluhan embrio tersebut nantinya akan diupayakan untuk berkembang biak melalui rahim induk pengganti yang meminjam spesies dari kerabat terdekat mereka, yakni badak putih selatan.

Ikuti terus perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi penyelamatan alam, dan kabar satwa paling faktual hanya di Posisi.net!

💬 Tinggalkan Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini!